Tuesday, June 06, 2006

Antara Maleo, Tambun dan Timbunan Masalahnya

Ada yang kenal dengan Mokintop? Dijamin 99% warga Sulawesi Utara pasti tidak mengenal nama yang satu ini. Atau ada yang tahu dengan Tambun? Mungkin untuk yang ini 90% warga Sulawesi Utara juga kurang mengetahuinya. Nah, bagaimana dengan Maleo? Keterlaluan kalau orang Sulawesi Utara tidak mengenal yang satu ini, kecuali mungkin sudah buta…yang buta huruf maksudnya.

Macrocephalon maleo, begitu nama latinnya. Namun orang lebih akrab dengan Maleo saja titik. Burung ini amat istimewa. Penampilannya mirip dengan ayam. Namun Ayam pun mesti hormat pada yang satu ini. Sudah pernah lihat telur ayam? …ck….ck….kalau telur Maleo ukurannya 5 kali telur ayam, ini baru satu keistimewaannya. Kelebihan yang lain, kepalanya memiliki helm, sedangkan warna tubuhnya seperti aktor-aktor Holiwood yang menggunakan tuxedo diajang perebutan piala oscar. Kemudian yang luar biasa, kalau bertelur maka telurnya disimpan di dalam tanah dan ditinggalkan begitu saja sampai menetas sendiri. Setelah itu si anak Maleo dengan sendirinya keluar dari dalam tanah dan terbang ke dalam hutan untuk hidup sendiri sampai menemukan pasangan ketika sudah dewasa. Keistimewaan lain tentang Maleo adalah, dan ini perlu dicontoh oleh pasangan-pasangan yang sementara kasmaran memadu kasih , mereka pasangan yang amat setia satu sama lain, kesetiaan mereka dibawa sampai mati…luar biasa.

Maleo termasuk dalam keluarga Megapode, artinya burung dengan kaki besar, namun yang unik, kaki Maleo justru paling kecil dalam keluarga Megapode. Dalam keluarga ini terdapat 22 jenis termasuk burung Gosong atau Moyo yang banyak terdapat di Phillipina dan Maleo Maluku yang cuma ada di Maluku, tetapi hanya burung Maleo dan dua jenis lain dari 22 jenis dalam keluarga ini yang bertelur di dalam tanah. Maleo menggunakan panas bumi saat bertelur di dalam hutan atau panas matahari bila bertelur dalam pasir di daerah pantai.

Burung Maleo merupakan burung endemik untuk pulau Sulawesi artinya tidak akan pernah dapat dijumpai di luar pulau Sulawesi. Kondisi inilah yang menjadikan salah satu alasan bagi orang asing untuk datang ke Sulawesi. Orang-orang asing berdatangan dari berbagai penjuru negeri untuk melihat burung yang satu ini karena di seluruh dunia hampir tidak ada yang mirip dengan burung ini. Diduga ribuan tahun yang lalu pasti banyak tempat lokasi peneluran di sepanjang pesisir pulau Sulawesi, tetapi dalam 30 tahun terakhir ini tempat bertelur Maleo sudah sangat sedikit, karena pemukiman penduduk banyak dibangun di daerah pesisir yang rata dimana jalan raya dan pertanian mudah dibuat. Saat ini burung Maleo yang tersisa paling banyak terdapat di Sulawesi Utara dibanding dengan propinsi lain. Hal ini merupakan salah satu alasan yang baik bagi kita untuk melindungi burung ini sehingga kelangsungan hidupnya di Sulawesi Utara dapat lestari.

Dari 134 lokasi peneluran di seluruh Sulawesi, 54 lokasi sudah tidak memiliki burung lagi, sedangkan 76 lokasi terancam punah termasuk didalamnya lokasi peneluran Tambun. Tambun adalah sebuah daerah yang terletak di kawasan lembah Dumoga. Bagi warga sekitar kawasan Dumoga, konon nama Tambun lebih dikenal kaitannya dengan Tambang. Jika berbicara permasalahan Tambang khususnya memperebutkan emas yang sampai menimbulkan perkelahian antar kelompok, maka orang-orang Tambun dikenal dengan “keberaniannya” dalam perkara adu otot tersebut. Nama Tambun sampai sekarang masih cukup ditakuti. Di Tambun inilah terdapat lokasi peneluran Maleo, tepatnya dekat desa Mokintop. Lokasi ini masuk dalam kawasan TN. Bogani Nani Wartabone. Menuju lokasi ini dari Manado mesti melalui Kotamobagu terlebih dahulu. Dapat ditempuh dengan beberapa pilihan, diantaranya naik mobil Kijang, sedikit lebih nyaman, dengan tarif tentunya lebih mahal yaitu Rp. 20.000,- atau bisa juga dengan angkutan yang lebih merakyat yaitu bus Damri dengan tarif Rp. 10.000,- Dari Kotamobagu perjalanan dilanjutkan dengan angkutan umum ke Imandi dengan tarif Rp.5000,- dan selanjutnya dari Imandi naik ompreng/ojek sampai di lokasi dengan tarif Rp. 5000,-. Perjalanan ini memakan waktu sekitar 5 jam. Lokasi peneluran tepat berada di pinggir jalan, begitu mudah untuk dijangkau, dan langsung terlihat setelah kita tiba di lokasi amat terbuka untuk umum, siapa saja dapat bebas keluar masuk lokasi ini. Hal ini disebabkan tidak adanya petugas yang berjaga, walaupun sudah dibuatkan pos penjagaan beserta rumah tinggal di lokasi tersebut. Disamping itu pagar pembatas lokasi dibuat seadanya bahkan dibeberapa tempat sudah rusak sehingga manusia maupun hewan bebas keluar masuk. Di dalam lokasi ada sebuah pos pengamatan yang cukup baik dan layak untuk pengamatan, dari pos kita dapat cukup bebas mengamati tingkah laku Maleo di sepenjuru lokasi peneluran dengan aman dan tersembunyi . Selain itu terdapat 3 buah lokasi peneluran buatan berupa bak penampungan berukuran 2 x 4 m yang biasa digunakan untuk penelitian telur Maleo. Kalau kita berjalan-jalan di dalam lokasi peneluran amat jelas terlihat berbagai macam bentuk lubang tempat Maleo bertelur. Pada lokasi ini diperkirakan sekitar 60 pasang Maleo bertelur.

Seperti yang telah diketahui oleh penelitian-penelitian sebelumnya, burung Maleo bertelur sekitar 10-12 butir pertahun selama 30 tahun, hal ini berarti sepasang burung Maleo dapat menghasilkan sekitar 300an butir telur sepanjang hidupnya. Di lokasi ini diperkirakan rata-rata 2-6 pasang Maleo bertelur perharinya. Umumnya mereka tiba di lokasi pada pagi hari , biasanya tiba dari dalam hutan dan hinggap pada pohon-pohon yang berada di sekitar lokasi, setelah beberapa waktu mereka turun ke lantai tanah untuk bertelur. Tidak menutup kemungkinan pula mereka datang siang hari atau bahkan sore hari, itu biasa ditemukan. Mereka bertelur dengan cara sebelumnya menggali lubang yang dirasakan cocok temperaturnya, setelah bertelur didalam lubang tersebut maka lubang tersebut kembali ditimbun oleh mereka, bahkan kadang-kadang mereka membuat lubang-lubang tipuan untuk mengelabuhi musuh-musuhnya yang berniat untuk mencuri telurnya. Amat pintar.

Seperti kebanyakan orang-orang di tempat lainnya, orang-orang Tambun pun berpikir bahwa masih banyak Maleo terdapat di daerah ini. Padahal riset yang dilakukan WCS dan Taman Nasional menemukan bahwa populasi Maleo di Tambun menurun tajam antara 47 – 65%. Masalah-masalah utama pada tahun-tahun belakangan ini adalah, disamping ancaman alamiah seperti Soa-soa dan kebakaran hutan, penduduk lokal menembaki burung untuk dimakan saat mereka tidak menemukan ayam atau jenis lainnya. Penembakan ini juga kadang dilakukan hanya untuk sekedar menyalurkan hobi atau sekedar iseng belaka karena ngga ada kerjaan. Dapat kita bayangkan kerusakan yang disebabkan, karena menembak 1 ekor Maleo jantan atau betina berarti memisahkan sepasang burung yang berarti juga kehilangan 300an butir telur atau 300an calon Maleo.

Masalah lain adalah pengambilan telur Maleo secara berlebihan, di lokasi ini hampir setiap hari ditemukan telur-telur yang hilang dari lubang penyimpanannya, terlihat jelas bekas galian manusia yang mengambil telur tersebut, kalau menurut orang-orang yang ahli mengenali kondisi lubang telur, akan terlihat mana saja lubang-lubang yang ada telur Maleonya, serta mana saja yang sudah Soa-soa atau manusia ambil, semua dapat diketahui dari bekas-bekasnya. Pengambilan atau pemanenan telur ini memang sudah berlangsung sejak lama dan dalam jumlah yang luar biasa. Menurut cerita orang-orang tua, pada waktu lalu setiap hari dapat dipanen sampai 100an telur perharinya, selain dikonsumsi sendiri telur-telur tersebut dibagi-bagikan kepada tokoh-tokoh di kampung seperti Kades, Pak Camat dan Kapolresta, semuanya kebagian. Untuk kasus ini bisa kita bandingkan dengan kondisi yang ada di Tangkoko, di daerah ini dulunya terdapat banyak Maleo yang hidup dan bertelur di pantai Batu Putih, namun penduduk memanen dalam jumlah yang terlalu banyak , sehingga dalam jangka waktu 13 tahun sejak orang memanen telur Maleo disana, sekarang tidak ada lagi telur yang dapat diambil. Saat ini dalam waktu satu tahun , orang mungkin hanya dapat melihat satu ekor burung Maleo di dalam hutan cagar alam Tangkoko. Menyedihkan.

Ancaman lain adalah pembukaan lahan perkebunan yang tepat berada di disamping lokasi peneluran dan hanya dibatasi oleh pagar pembatas lokasi peneluran, di perkebunan yang baru dibuka ini hampir setiap hari terjadi berbagai aktivitas manusia dari mulai pembersihan kebun, pembakaran sisa-sisa sampah kebun, pemotongan pohon atau kayu dan entah apalagi selanjutnya, yang pasti kebun ini baru dibuka, belum digunakan untuk berkebun. Situasi ini pasti amat mengganggu ketenangan Maleo bertelur.

Masalah menyangkut ketenangan Maleo bertelur juga ada yang lain. Lokasi ini amat mudah untuk dijangkau, serta tidak ada petugas yang menjaga, selain itu pagar pembatas lokasi sudah tidak layak, mengakibatkan siapa saja bisa seenaknya keluar masuk kawasan Dari mulai anjing sampai manusia bebas pasiar di kawasan. Kepentingannya macam-macam, ada yang mencari kayu bakar, bambu atau buluh, daun woka, saguer atau nira untuk minuman atau gula merah, atau buat janur. Semua aktivitas tersebut secara langsung amat mengganggu ketenangan Maleo bertelur. Jangankan bertelur, begitu Maleo melihat Manusia, maka dapat dipastikan Maleo tersebut langsung kabur masuk ke dalam hutan.

Selain masalah-masalah di atas maka ancaman lain yang mengganggu Maleo serta habitatnya yang umum ditemui di kawasan ini adalah pengambilan rotan, penebangan kayu serta pertambangan, semua ini menjadi ancaman keberadaan Maleo serta hidupan liar lainnya. Tambun sebelumnya dikenal sebagai tempat istimewa karena lokasi terbaik untuk peneluran Maleo, namun berbagai penelitian menunjukan, saat ini Tambun hanyalah tempat biasa karena cuma ada beberapa Maleo yang tersisa.…kasian deh lo…ada apa dengan Maleo di Tambun?


Mei 2002, Manado

Si Iblis dan Bencana di Semenanjung Utara Sulawesi

Iblis yang satu ini benar-benar misterius. Sepak terjangnya tidak banyak diketahui orang-orang. Jejaknya begitu sukar untuk ditelusuri. Bahkan di sebagian kalangan, eksistensinya sudah begitu diragukan, apakah masih ada di muka bumi ini? Amat sedikit informasi tentang mahluk ini.
Keberadaannya pertama kali diketahui pada tahun 1931 di daerah Minahasa Sulawesi Utara, tepatnya desa Kumaresot. Dan selanjutnya, setelah sekian puluh tahun tidak tampak batang hidungnya, permunculannya kembali terlihat pada tahun 1993 dan kemudian 1996 di Sulawesi Tengah, tepatnya di kawasan Lorelindu. Dan kembali terlihat di Minahasa tahun 2000. Dan yang paling mutakhir teridentifikasi di CA. Tinombala tahun 2002 baru-baru ini.

Mahluk apa ini?

Selain misterius, ada hal aneh lainnya yang menyelimuti mahluk ini, salah satunya adalah memiliki beberapa nama. Orang Inggris memberikannya dua nama, yaitu Heinrich’s Nightjar serta Satanic Nightjar (yang mungkin artinya “Si Setan Malam”). Sedangkan orang-orang latin memberinya nama Eurostopodus diabolicus (perlu diketahui arti dari diabolical adalah kejam). Di Indonesia sendiri mahluk ini dikenal dengan nama “Taktarau Iblis”……..hih…..ngeri deh!!!

Keunikan lainnya adalah dia hanya beraktivitas pada malam hari, pemburu yang cerdik sekaligus licik, pintar bersembunyi (atau menghilang?), dapat terbang dan yang aneh adalah sampai hari ini bentuk atau bunyi suaranya tidak dapat dipastikan, selain itu jika bersuara tidak tampak sosoknya. Sekarang mahluk ini sudah tergolong langka, hanya ada di Sulawesi. Tentang informasi lainnya masih begitu minim karena kurangnya data. Namun yang dapat dipastikan jenis iblis yang satu ini tidak seperti iblis yang digambarkan dalam cerita silat seperti di Kopingho!

Data Deficient?

Ciri dari jenis ini adalah tampilannya yang gelap dengan warna pita tenggorokan merah karat pucat.Bintik kecil warna putih yang kurang mencolok terdapat pada bulu primer keempat (jumlah dihitung dari sayap luar). Ekornya tidak ada warna putih. Persebaran species ini ada di Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah bagian utara. Selain jenis ini terdapat juga jenis lain yang hampir mirip yaitu : Taktarau Tutul (Eurostopodus argus/Spotted Nightjar) yang terdapat di Nusa Tenggara Timur, Taktarau Besar (Eurostopodus macrotis/Great Eared Nightjar) yang ada di Sub kawasan Sulawesi dan kep. Sula, Cabak Kelabu (Caprimulgus indicus/Grey Nightjar yang ada di Halmahera Maluku Utara, Cabak Maling (Caprimulgus macrurus/Large-Tailed Nightjar) di Maluku, Nusa Tenggara hingga pulau-pulau di laut Flores, Cabak Sulawesi (Caprimulgus celebensis/Sulawesi Nightjar) ada di sulawesi dan kep. Sula, Cabak Kota (Savana Nightjar/Caprimulgus affinis) yang ada di wilayah Sulawesi kecuali bagian utara, Nusa Tenggara.

Semua jenis yang ada di atas masuk dalam famili Caprimulgidae atau Nightjars. Memiliki sifat nocturnal dan crepuscular yang artinya hanya melakukan aktivitas dimulai pada senjahari, malam hari dan sampai menjelang fajar. Umumnya mempunyai ukuran tubuh sedang, sayapnya panjang, ekor penuh dan panjang. Postur tubuh datar. Hidup pada daerah-daerah yang beriklim sedang dan tropis di semua benua. Terdiri dari 83 species dan 18 genus yang terbagi dalam tiga kelompok : pertama, The Eared Nightjar (Eurostopodus) yang terdapat di Asia Selatan sampai Australia. Kedua, Nighthawks yang ada di Amerika. Ketiga, Typical Nightjar yang ada di perkotaan.(Sibley dan Monroe, 1990). Sedangkan secara genetis dilihat dari DNA, ada dua family yaitu The Eared Nightjars (Eurostopodidae) dan species-species lainnya (Caprimulgidae). (Sibley dan Ahlquist, 1990).

Umumnya karakteristik Nightjars adalah kepalanya yang rata, leher pendek, sayap dan ekor panjang, mata besar (selalu tertutup ketika sianghari), paruhnya kecil jika menganga mulutnya amat lebar, kakinya pendek dan kecil, bulu terlihat indah dengan warna yang kegelap-gelapan, campuran coklat, abu-abu, kekuningan, hitam keburik-burikan dan biasanya ada sedikit warna putih pada sayap, ekor dan tenggorokan, warna putih tersebut tersembunyi ketika beristirahat. Betina mirip jantan, tetapi warna putih di sayap dan ekor bisa kekuning-kuningan atau tidak ada. Anak-anak (Immature) mirip dengan dewasa. Beberapa species memiliki bulu menonjol di telinga, dan pada jantan dari beberapa species tertentu ditunjukan dengan memiliki bulu lebih panjang pada ekor dan bulu primer bagian dalam. Dari dua kelompok yang ada di Wallacea, The Eared Nightjars (Eurostopodus) berbeda dengan tipe-tipe Nightjars lainnya, seperti dalam bulu-bulu yang mengelilingi mulut kurang, serta tidak memiliki tanda putih di ekor.

Habitat Nightjars pada hutan terbuka , tepi hutan, daerah/tanah berhutan, savanna, semak belukar, pedesaan terbuka. Mereka melewatkan hari dengan duduk beristirahat di tanah pada daun-daun yang berserakan, atau bertengger pada dahan atau ranting, dimana tubuh mereka yang gelap dengan postur yang bungkuk/merunduk membuat mereka amat sulit untuk terlihat, kecuali mereka bergerak. Aktivitas mereka di malam hari, mereka memakan serangga yang sedang terbang, diperoleh dengan cara menyerang secara mendadak dari tanah atau dari tempat-tempat ketinggian yang tersembunyi, atau sebaliknya dengan sabar menanti sambil menunggu waktu yang tepat sambil terbang ringan melayang melewati kawasan hutan dan lahan terbuka, cermat mengawasi calon korban yang lengah. Beberapa species biasanya duduk dijalanan pada malam hari , mata mereka amat awas dan terang mengawasi sekitarnya. Mereka bersuara berulang-ulang di senjakala sampai malam hari dan ini merupakan indicator yang baik untuk menunjukan tempat tinggal mereka. Beberara species menetap, namun ketika kawin melakukan migrasi dari daerah yang beriklim sedang (Grey Nightjar di Asia Timur dan Spotted Nightjar di Australia Selatan) menuju ke daerah yang lebih hangat selama musim dingin. Nightjar tidak membuat sarang, namun meletakan telurnya pada daun-daun yang berserakan di tanah atau lahan-lahan yang gundul. Jumlah telur dari 1 sampai 2, berwarna krem atau coklat muda, tampak seperti kelereng, seperti berjerawat serta ada bintik-bintik gelap. Anak burung memiliki bulu halus dan cepat menjadi dewasa, dan orangtuanya berbagi tugas untuk menjaganya.

Taktarau Iblis ini selain diketahui dari sebuah specimen tunggal, juga didapat dari beberapa catatan yaitu pernah tertangkap seekor betina tahun 1931 pada ketinggian 250 m di sebuah hutan dekat desa Kumaresot, kaki gunung Klabat Minahasa Sulawesi Utara. Selain itu seekor burung pernah terlihat pada ketinggian 1700 m di TN. Lorelindu Sulawesi Tengah , Juli 1993 (King, 1994). Dan empat ekor terlihat dan tiga diantaranya agaknya individu yang sama, species ini teridentifikasi pada dua lokasi hutan yang berdekatan pada ketinggian 1000 m dan 1735 m di TN. Lorelindu Sulawesi Tengah, Mei 1996. Pengamatan sering dilakukan di sekitar kawasan hutan primer terbuka/rusak dan hutan pegunungan tebang pilih.
Informasi yang paling terbaru tentang spesies ini adalah didapat dari penelitian yang dilakukan oleh WCS IP Sulawesi (sebuah NGO yang perduli terhadap usaha melindungi hidupan liar) yang dilakukan di CA. Tinombala Sulawesi Tengah Maret 2002. Burung ini diketemukan pada ketinggian antara 735 – 740 dpl, pada habitat hutan primer, terlihat sekaligus 2 ekor.

Tentang hilangnya si iblis dan datangnya bencana.

Seperti telah diuraikan dalam deskripsi singkat di atas, bahwa status burung ini amat langka (atau sudah punah?) serta informasi lainnya tentang jenis ini amat kurang (data deficient). Maka untuk mengetahui populasi dari jenis ini pun akan kesulitan. Selain itu perkiraan populasi juga tergantung pada data-data tentang luas jelajah (home range) dan informasi luas hutan yang masih ada, yang keduanya pun belum diketahui dengan baik sampai saat ini. Yang pasti dari waktu ke waktu luas hutan dan kualitas hutan di daratan Sulawesi termasuk Gorontalo, Bolaang Mongondow, Minahasa terus berubah dan cenderung berkurang, yang pada akhirnya perubahan luas hutan tersebut akan mempengaruhi tingkat kepadatan populasi atau keberadaan jenis tersebut.

Gangguan yang paling mengancam dari jenis-jenis burung adalah hilang atau rusaknya habitat. Ancaman lainnya adalah perburuan, perdagangan, dsb. Terdapat tiga macam bentuk rusaknya habitat yaitu deforestasi atau konversi hutan menjadi daerah terbuka termasuk didalamnya perkebunan monokultur; gangguan hutan adalah merubah hutan primer menjadi hutan sekunder yang menghasilkan perubahan sangat berarti pada struktur vegetasi dan dalam pemiskinan komunitas tumbuhan dan hewan; fragmentasi habitat adalah adalah pemecahan hutan menjadi petak-petak kecil dan lahan terbuka.


Saat ini secara kasat mata kita melihat bagaimana kawasan-kawasan hutan di Sulawesi Utara serta Gorontalo mengalami berbagai macam kerusakan pada skala besar-besaran dalam jangka waktu yang begitu singkat. Perluasan areal pemukiman, perkebunan, perburuan, penambangan, pembalakan, pengambilan rotan , yang mana semua ini akibatnya sudah sama-sama rasakan yaitu terjadinya bencana banjir pada hampir semua wilayah di wilayah Sulawesi bagian utara dari mulai Gorontalo, Bolaang Mongondow, Minahasa sampai Manado, semuanya sempat “tenggelam”. Disisi lain kita juga tahu, dari jauh-jauh hari, mulai menurunnya kuantitas atau jumlah dari beberapa satwa khas endemic Sulawesi Utara, seperti Anoa, Babyrusa, Yaki, termasuk beberapa jenis burung seperti Maleo juga Taktarau Iblis. Dan dari keberadaan berbagai satwa di atas tersebut sering kali merupakan bioindikator yang sensitive atas perubahan lingkungan atau kualitas habitat sebuah kawasan. Sayangnya walaupun kita cukup mengetahui tentang kondisi diatas kita ternyata masih kurang mempelajari atau belajar tentang manfaat dari hubungan di atas bahkan sering sengaja diabaikan hanya untuk kepentingan sesaat saja. Dan tentunya kesempatan belajar akan terus menghilang ketikan sebagian besar dari jenis hidupan liar tersebut terutama jenis yang endemic punah. Sudah cukup jelas kaitan antara hilangnya si Iblis dengan datangnya bencana di di daerah ini. Untuk itu , sebuah kesadaran baru dalam upaya pencapaian strategi konservasi amat diperlukan , semuanya tergantung kita, alam sudah cukup bercerita…….mau mulai dari mana ?

Manado, Rabu 17 Oktober 2001
Pkl. 01.00. dinihari

Burung Sebagai Simbol Budaya dan Religi

Beberapa waktu lalu sempat terangkat melalui media massa lokal di Manado, usulan menggantikan lambang GMIM (Gereja Masehi Injili di Minahasa) dari burung hantu (Otus manadensis; Manguni) menjadi burung merpati. Ada pro kontra berkaitan dengan gagasan itu, yang berhubungan dengan pemaknaan burung sebagai simbol budaya atau religi, misalnya merpati itu simbol perdamaian, sedangkan burung hantu atau manguni (Minahasa) adalah simbol pengetahuan dan kebijaksanaan.

Nah....tulisan berikut ini mengkaji tentang burung sebagai simbol budaya dan religi. Tulisan ini saya terjemahkan secara bebas dari Ornithology (second edition), Frank B. Gill, W.H. Freeman & Company, New York, 1995 (xxi – xxiii).

Kepercayaan diseputar burung memang banyak dan tidak ada habisnya untuk dijadikan sumber cerita. Ingat film “ The Crows “ yang diperankan Brandon Lee (anak Bruce Lee ). Di film tersebut sang tokoh selalu ditemani oleh seekor gagak dan dipercaya rohnya ada pada burung gagak tersebut. Seiring dengan misteri yang menyelimuti pembuatan film ini ternyata bintang utamanya benar-benar tewas akibat terkena peluru dalam salah satu adegan. Percaya atau tidak, apakah ini murni sekedar kecelakaan? Atau ada faktor-faktor lainnya ?

Kelebihan Burung
Terlepas dari berbagai cerita diatas, dalam sejarah tidak ada hewan yang begitu dekat hubungannya atau begitu akrab dengan manusia selain burung. Banyak inspirasi terlahir darinya. Sebagai simbol, legenda, mitos, cerita rakyat, juga seni dan ilmu pengetahuan. Sejak awal peradaban manusia burung sudah begitu dikenal, sebagai simbol perdamaian sekaligus peperangan. Subyek dari seni, obyek study juga sport. Semuanya dapat dijadikan sumber imajinasi, dari kemolekannya yang ragam, keindahan warna bulu, cara terbang serta nyanyiannya.

Burung dapat ditemukan di seluruh penjuru dunia. Snowy Owls ( Burung hantu salju ) di wilayah kutub Arctic, Black Bellied Sandgrouse ( Burung Gurun ) di padang pasir di Timur Tengah, White-Winged Diuca-Finch ( Burung Gunung ) di dataran tinggi Andes Peru, Pinguins di Samudera Antartika, Huge Eagles ( Burung Elang ) dan Parrots di seluruh kawasan hutan hujan di dunia, serta daerah lainnya, burung-burung tersebut dapat kita jumpai. Jenis-jenis tersebut melakukan berbagai macam perjalanan baik jarak jauh maupun dekat. Beberapa burung seperti Merpati Nicobar di Indonesia, bergerak dari pulau yang satu ke pulau yang lain, merupakan ahli navigasi, melakukan perjalanan dengan jarak yang fenomenal. The Sooty Shearwater bermigrasi dari pulau-pulau di Austalia ke teluk Kalifornia dan Oregon. The Arctic Tern dari New England ke Antartika serta The Rufous Hummingbird dari Alaska ke Mexiko.

Simbolisasi Burung dari Zaman ke Zaman
Semua kualitas dan berbagai kelebihan burung diatas rupanya telah menimbulkan perasaan misterius dan ajaib sejak kemunculan ras manusia. Memang hampir dalam setiap kebudayaan primitif, burung selalu dihubungkan sebagai wakil dan pembawa pesan keTuhanan. Untuk memahami bahasa mereka dalam upaya mengerti keberadaan para Dewa. Cara terbang burung dapat ditafsirkan untuk meramal masa depan. Dalam bahasa kita “ Pertanda dan Perlindungan ” secara harfiah berarti “ Pandangan dan perkataan burung “. Sewaktu seni berpuisi di Yunani sedang mengalami kemajuan antara perkataan dan pertanda dari burung hampir sama, dan seseorang jarang menjalankan sebuah tindakan yang mempunyai konsekwensi tanpa mendapat manfaat dari pertanda dan perlindungan tersebut. Praktek ini selamanya juga berlaku di Asia Tenggara dan Pasifik Barat.

Sebagai simbol sebuah ideologi dan inspirasi, burung menjadi figur umum pada banyak religi dan kebudayaan. Merpati merupakan simbol dari dewi bumi (kesuburan ) di Mesopotamia. Di Yunani, merpati khususnya diasosiasikan pada dewi Aphrodite yaitu dewi percintaan. Sedangkan di Phoenicia, Syria dan Yunani, suara dari merpati merupakan sabda dewa yang biasanya dihubungkan dengan ramalan atau jawaban bijaksana. Dalam Islam dikatakan sebagai panggilan dari orang beriman yang berdoa, dalam Kristen merpati merupakan representasi dari Roh Kudus (Holy Spirit) dan diasosiasikan dengan Perawan Maria. Merpati jika dihubungkan dengan ranting Zaitun maka menjadi simbol perdamaian. Kebalikannya dalam kebudayaan awal Jepang, merpati menjadi pembawa pesan peperangan.

Burung yang lain adalah burung Elang, burung ini dijadikan sebagai simbol peradaban Barat yang memang sudah digunakan sejak masa 3000 sm di Sumeria. Dalam mitologi Yunani, Elang menjadi pembawa pesan dari Dewa Zeus. Sedangkan pada zaman Romawi di Eropa, elang ( Golden eagle ), juga menjadi simbol mereka. Dan jenis ini juga dijadikan simbol perang pada banyak suku-suku Indian di Amerika Utara semasa awal pendudukan Inggris. Tahun 1782 , “ The Bald Eagle “ dijadikan simbol pada bendera US. Selain elang, yang juga termasuk dalam cerita legenda dan mitos adalah gagak atau raven. Salah satunya diceritakan sebagai berikut, sebagai pembawa pesan dewa Apolo satu kali gagak lalai dalam tugas sehingga diberikan hukuman yaitu warna bulunya yang sebelumnya putih diubah menjadi hitam. Cerita yang sama juga terjadi antara gagak dan nabi Nuh (Noah), ketika setelah berhari-hari terombang-ambing di samudera akibat banjir, maka Nuh mengutus merpati dan gagak untuk mencari daratan, namun sayangnya sang gagak tidak kembali lagi sehingga Nuh marah dan mengutuknya, maka warna bulunya yang semula putih menjadi hitam. Kepercayaan tentang warna bulu gagak ini lain ceritanya pada legenda orang-orang Eskimo yaitu warna gagak menjadi hitam akibat ditumpahkan jelaga hitam lampu minyak di sekujur tubuhnya, hal ini disebabkan percekcokkan dengan sahabat karibnya si burung hantu salju.

Dalam legenda-legenda lainnya gagak juga sering digambarkan memainkan peran yang baik, menyenangkan dan bijaksana. Dalam cerita rakyat Indian di Amerika Utara dilukiskan umumnya gagak yang membagi-bagikan makanan bersama dengan seorang laki-laki yang datang dari arah laut. Pada pelaut-pelaut Norse atau pelaut-pelaut Hindu yang bertualang mengelilingi sebagian dunia gagak dipercaya oleh mereka sebagai pemandu yang akan membawa ke daratan. Cerita ini juga terdengar pada masa kejayaan Alexander Agung yaitu dua ekor gagak yang menjadi pemandu pasukan mereka ketika dalam perjalanan panjangnya melintasi daerah gurun di Mesir untuk berunding dengan sang Nabi di kuil Ammon.

Masih banyak lagi kepercayaan yang berkaitan dengan burung, tidak usah jauh-jauh, di daerah kita sendiri Minahasa, burung hantu atau Manguni dianggap sebagai hewan yang istimewa, punya sifat bijaksana sehingga dijadikan sebagai lambang daerah Minahasa. Bagaimana dengan daerah saudara ? mungkin menyimpan cerita yang lain.

Semua cerita di atas hanya merupakan perangsang agar kita perduli dengan keberadaan burung. Lebih jauh dari itu adalah bagaimana kita mengambil langkah terhadap keberadaan burung yang sudah semakin terancam. Strategi konservasi macam bagaimana yang akan kita tempuh. Yang pasti tanpa ditunjang data dan informasi yang baik semuanya akan sia-sia. Untuk itu sekali lagi mari kita rajin-rajin turun langsung ke lapangan. Oke !!!

Tentang Thedemit.

Thedemit ini, maunya sih singkatan dari Dewan Mitra atau lengkapnya Dewan Mitra Pengelola Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, yang biasanya disingkat DM TNBNW. Namun walaupun terdenger lebih keren gitu....tapi untuk mengubahnya tentu saja harus seijin temen-temen yang lain. Sementara ini namaThedemit saya pake sendiri saja deh.

Inginnya blog ini menjadi tempat berbagi dari saya tentang apa saja yang berhubungan dengan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, hutan, alam dan segala isinya termasuk manusia. Potensi, masalah, issue-issue, pengelolaan dan mungkin juga sedikit mimpi-mimpi indah tentang kawasan. Moga-moga semuanya dapat bermanfaat, paling tidak buat saya sendiri.