Antara Maleo, Tambun dan Timbunan Masalahnya
Ada yang kenal dengan Mokintop? Dijamin 99% warga Sulawesi Utara pasti tidak mengenal nama yang satu ini. Atau ada yang tahu dengan Tambun? Mungkin untuk yang ini 90% warga Sulawesi Utara juga kurang mengetahuinya. Nah, bagaimana dengan Maleo? Keterlaluan kalau orang Sulawesi Utara tidak mengenal yang satu ini, kecuali mungkin sudah buta…yang buta huruf maksudnya.
Macrocephalon maleo, begitu nama latinnya. Namun orang lebih akrab dengan Maleo saja titik. Burung ini amat istimewa. Penampilannya mirip dengan ayam. Namun Ayam pun mesti hormat pada yang satu ini. Sudah pernah lihat telur ayam? …ck….ck….kalau telur Maleo ukurannya 5 kali telur ayam, ini baru satu keistimewaannya. Kelebihan yang lain, kepalanya memiliki helm, sedangkan warna tubuhnya seperti aktor-aktor Holiwood yang menggunakan tuxedo diajang perebutan piala oscar. Kemudian yang luar biasa, kalau bertelur maka telurnya disimpan di dalam tanah dan ditinggalkan begitu saja sampai menetas sendiri. Setelah itu si anak Maleo dengan sendirinya keluar dari dalam tanah dan terbang ke dalam hutan untuk hidup sendiri sampai menemukan pasangan ketika sudah dewasa. Keistimewaan lain tentang Maleo adalah, dan ini perlu dicontoh oleh pasangan-pasangan yang sementara kasmaran memadu kasih , mereka pasangan yang amat setia satu sama lain, kesetiaan mereka dibawa sampai mati…luar biasa.
Maleo termasuk dalam keluarga Megapode, artinya burung dengan kaki besar, namun yang unik, kaki Maleo justru paling kecil dalam keluarga Megapode. Dalam keluarga ini terdapat 22 jenis termasuk burung Gosong atau Moyo yang banyak terdapat di Phillipina dan Maleo Maluku yang cuma ada di Maluku, tetapi hanya burung Maleo dan dua jenis lain dari 22 jenis dalam keluarga ini yang bertelur di dalam tanah. Maleo menggunakan panas bumi saat bertelur di dalam hutan atau panas matahari bila bertelur dalam pasir di daerah pantai.
Burung Maleo merupakan burung endemik untuk pulau Sulawesi artinya tidak akan pernah dapat dijumpai di luar pulau Sulawesi. Kondisi inilah yang menjadikan salah satu alasan bagi orang asing untuk datang ke Sulawesi. Orang-orang asing berdatangan dari berbagai penjuru negeri untuk melihat burung yang satu ini karena di seluruh dunia hampir tidak ada yang mirip dengan burung ini. Diduga ribuan tahun yang lalu pasti banyak tempat lokasi peneluran di sepanjang pesisir pulau Sulawesi, tetapi dalam 30 tahun terakhir ini tempat bertelur Maleo sudah sangat sedikit, karena pemukiman penduduk banyak dibangun di daerah pesisir yang rata dimana jalan raya dan pertanian mudah dibuat. Saat ini burung Maleo yang tersisa paling banyak terdapat di Sulawesi Utara dibanding dengan propinsi lain. Hal ini merupakan salah satu alasan yang baik bagi kita untuk melindungi burung ini sehingga kelangsungan hidupnya di Sulawesi Utara dapat lestari.
Dari 134 lokasi peneluran di seluruh Sulawesi, 54 lokasi sudah tidak memiliki burung lagi, sedangkan 76 lokasi terancam punah termasuk didalamnya lokasi peneluran Tambun. Tambun adalah sebuah daerah yang terletak di kawasan lembah Dumoga. Bagi warga sekitar kawasan Dumoga, konon nama Tambun lebih dikenal kaitannya dengan Tambang. Jika berbicara permasalahan Tambang khususnya memperebutkan emas yang sampai menimbulkan perkelahian antar kelompok, maka orang-orang Tambun dikenal dengan “keberaniannya” dalam perkara adu otot tersebut. Nama Tambun sampai sekarang masih cukup ditakuti. Di Tambun inilah terdapat lokasi peneluran Maleo, tepatnya dekat desa Mokintop. Lokasi ini masuk dalam kawasan TN. Bogani Nani Wartabone. Menuju lokasi ini dari Manado mesti melalui Kotamobagu terlebih dahulu. Dapat ditempuh dengan beberapa pilihan, diantaranya naik mobil Kijang, sedikit lebih nyaman, dengan tarif tentunya lebih mahal yaitu Rp. 20.000,- atau bisa juga dengan angkutan yang lebih merakyat yaitu bus Damri dengan tarif Rp. 10.000,- Dari Kotamobagu perjalanan dilanjutkan dengan angkutan umum ke Imandi dengan tarif Rp.5000,- dan selanjutnya dari Imandi naik ompreng/ojek sampai di lokasi dengan tarif Rp. 5000,-. Perjalanan ini memakan waktu sekitar 5 jam. Lokasi peneluran tepat berada di pinggir jalan, begitu mudah untuk dijangkau, dan langsung terlihat setelah kita tiba di lokasi amat terbuka untuk umum, siapa saja dapat bebas keluar masuk lokasi ini. Hal ini disebabkan tidak adanya petugas yang berjaga, walaupun sudah dibuatkan pos penjagaan beserta rumah tinggal di lokasi tersebut. Disamping itu pagar pembatas lokasi dibuat seadanya bahkan dibeberapa tempat sudah rusak sehingga manusia maupun hewan bebas keluar masuk. Di dalam lokasi ada sebuah pos pengamatan yang cukup baik dan layak untuk pengamatan, dari pos kita dapat cukup bebas mengamati tingkah laku Maleo di sepenjuru lokasi peneluran dengan aman dan tersembunyi . Selain itu terdapat 3 buah lokasi peneluran buatan berupa bak penampungan berukuran 2 x 4 m yang biasa digunakan untuk penelitian telur Maleo. Kalau kita berjalan-jalan di dalam lokasi peneluran amat jelas terlihat berbagai macam bentuk lubang tempat Maleo bertelur. Pada lokasi ini diperkirakan sekitar 60 pasang Maleo bertelur.
Seperti yang telah diketahui oleh penelitian-penelitian sebelumnya, burung Maleo bertelur sekitar 10-12 butir pertahun selama 30 tahun, hal ini berarti sepasang burung Maleo dapat menghasilkan sekitar 300an butir telur sepanjang hidupnya. Di lokasi ini diperkirakan rata-rata 2-6 pasang Maleo bertelur perharinya. Umumnya mereka tiba di lokasi pada pagi hari , biasanya tiba dari dalam hutan dan hinggap pada pohon-pohon yang berada di sekitar lokasi, setelah beberapa waktu mereka turun ke lantai tanah untuk bertelur. Tidak menutup kemungkinan pula mereka datang siang hari atau bahkan sore hari, itu biasa ditemukan. Mereka bertelur dengan cara sebelumnya menggali lubang yang dirasakan cocok temperaturnya, setelah bertelur didalam lubang tersebut maka lubang tersebut kembali ditimbun oleh mereka, bahkan kadang-kadang mereka membuat lubang-lubang tipuan untuk mengelabuhi musuh-musuhnya yang berniat untuk mencuri telurnya. Amat pintar.
Seperti kebanyakan orang-orang di tempat lainnya, orang-orang Tambun pun berpikir bahwa masih banyak Maleo terdapat di daerah ini. Padahal riset yang dilakukan WCS dan Taman Nasional menemukan bahwa populasi Maleo di Tambun menurun tajam antara 47 – 65%. Masalah-masalah utama pada tahun-tahun belakangan ini adalah, disamping ancaman alamiah seperti Soa-soa dan kebakaran hutan, penduduk lokal menembaki burung untuk dimakan saat mereka tidak menemukan ayam atau jenis lainnya. Penembakan ini juga kadang dilakukan hanya untuk sekedar menyalurkan hobi atau sekedar iseng belaka karena ngga ada kerjaan. Dapat kita bayangkan kerusakan yang disebabkan, karena menembak 1 ekor Maleo jantan atau betina berarti memisahkan sepasang burung yang berarti juga kehilangan 300an butir telur atau 300an calon Maleo.
Masalah lain adalah pengambilan telur Maleo secara berlebihan, di lokasi ini hampir setiap hari ditemukan telur-telur yang hilang dari lubang penyimpanannya, terlihat jelas bekas galian manusia yang mengambil telur tersebut, kalau menurut orang-orang yang ahli mengenali kondisi lubang telur, akan terlihat mana saja lubang-lubang yang ada telur Maleonya, serta mana saja yang sudah Soa-soa atau manusia ambil, semua dapat diketahui dari bekas-bekasnya. Pengambilan atau pemanenan telur ini memang sudah berlangsung sejak lama dan dalam jumlah yang luar biasa. Menurut cerita orang-orang tua, pada waktu lalu setiap hari dapat dipanen sampai 100an telur perharinya, selain dikonsumsi sendiri telur-telur tersebut dibagi-bagikan kepada tokoh-tokoh di kampung seperti Kades, Pak Camat dan Kapolresta, semuanya kebagian. Untuk kasus ini bisa kita bandingkan dengan kondisi yang ada di Tangkoko, di daerah ini dulunya terdapat banyak Maleo yang hidup dan bertelur di pantai Batu Putih, namun penduduk memanen dalam jumlah yang terlalu banyak , sehingga dalam jangka waktu 13 tahun sejak orang memanen telur Maleo disana, sekarang tidak ada lagi telur yang dapat diambil. Saat ini dalam waktu satu tahun , orang mungkin hanya dapat melihat satu ekor burung Maleo di dalam hutan cagar alam Tangkoko. Menyedihkan.
Ancaman lain adalah pembukaan lahan perkebunan yang tepat berada di disamping lokasi peneluran dan hanya dibatasi oleh pagar pembatas lokasi peneluran, di perkebunan yang baru dibuka ini hampir setiap hari terjadi berbagai aktivitas manusia dari mulai pembersihan kebun, pembakaran sisa-sisa sampah kebun, pemotongan pohon atau kayu dan entah apalagi selanjutnya, yang pasti kebun ini baru dibuka, belum digunakan untuk berkebun. Situasi ini pasti amat mengganggu ketenangan Maleo bertelur.
Masalah menyangkut ketenangan Maleo bertelur juga ada yang lain. Lokasi ini amat mudah untuk dijangkau, serta tidak ada petugas yang menjaga, selain itu pagar pembatas lokasi sudah tidak layak, mengakibatkan siapa saja bisa seenaknya keluar masuk kawasan Dari mulai anjing sampai manusia bebas pasiar di kawasan. Kepentingannya macam-macam, ada yang mencari kayu bakar, bambu atau buluh, daun woka, saguer atau nira untuk minuman atau gula merah, atau buat janur. Semua aktivitas tersebut secara langsung amat mengganggu ketenangan Maleo bertelur. Jangankan bertelur, begitu Maleo melihat Manusia, maka dapat dipastikan Maleo tersebut langsung kabur masuk ke dalam hutan.
Selain masalah-masalah di atas maka ancaman lain yang mengganggu Maleo serta habitatnya yang umum ditemui di kawasan ini adalah pengambilan rotan, penebangan kayu serta pertambangan, semua ini menjadi ancaman keberadaan Maleo serta hidupan liar lainnya. Tambun sebelumnya dikenal sebagai tempat istimewa karena lokasi terbaik untuk peneluran Maleo, namun berbagai penelitian menunjukan, saat ini Tambun hanyalah tempat biasa karena cuma ada beberapa Maleo yang tersisa.…kasian deh lo…ada apa dengan Maleo di Tambun?
Mei 2002, Manado
Macrocephalon maleo, begitu nama latinnya. Namun orang lebih akrab dengan Maleo saja titik. Burung ini amat istimewa. Penampilannya mirip dengan ayam. Namun Ayam pun mesti hormat pada yang satu ini. Sudah pernah lihat telur ayam? …ck….ck….kalau telur Maleo ukurannya 5 kali telur ayam, ini baru satu keistimewaannya. Kelebihan yang lain, kepalanya memiliki helm, sedangkan warna tubuhnya seperti aktor-aktor Holiwood yang menggunakan tuxedo diajang perebutan piala oscar. Kemudian yang luar biasa, kalau bertelur maka telurnya disimpan di dalam tanah dan ditinggalkan begitu saja sampai menetas sendiri. Setelah itu si anak Maleo dengan sendirinya keluar dari dalam tanah dan terbang ke dalam hutan untuk hidup sendiri sampai menemukan pasangan ketika sudah dewasa. Keistimewaan lain tentang Maleo adalah, dan ini perlu dicontoh oleh pasangan-pasangan yang sementara kasmaran memadu kasih , mereka pasangan yang amat setia satu sama lain, kesetiaan mereka dibawa sampai mati…luar biasa.
Maleo termasuk dalam keluarga Megapode, artinya burung dengan kaki besar, namun yang unik, kaki Maleo justru paling kecil dalam keluarga Megapode. Dalam keluarga ini terdapat 22 jenis termasuk burung Gosong atau Moyo yang banyak terdapat di Phillipina dan Maleo Maluku yang cuma ada di Maluku, tetapi hanya burung Maleo dan dua jenis lain dari 22 jenis dalam keluarga ini yang bertelur di dalam tanah. Maleo menggunakan panas bumi saat bertelur di dalam hutan atau panas matahari bila bertelur dalam pasir di daerah pantai.
Burung Maleo merupakan burung endemik untuk pulau Sulawesi artinya tidak akan pernah dapat dijumpai di luar pulau Sulawesi. Kondisi inilah yang menjadikan salah satu alasan bagi orang asing untuk datang ke Sulawesi. Orang-orang asing berdatangan dari berbagai penjuru negeri untuk melihat burung yang satu ini karena di seluruh dunia hampir tidak ada yang mirip dengan burung ini. Diduga ribuan tahun yang lalu pasti banyak tempat lokasi peneluran di sepanjang pesisir pulau Sulawesi, tetapi dalam 30 tahun terakhir ini tempat bertelur Maleo sudah sangat sedikit, karena pemukiman penduduk banyak dibangun di daerah pesisir yang rata dimana jalan raya dan pertanian mudah dibuat. Saat ini burung Maleo yang tersisa paling banyak terdapat di Sulawesi Utara dibanding dengan propinsi lain. Hal ini merupakan salah satu alasan yang baik bagi kita untuk melindungi burung ini sehingga kelangsungan hidupnya di Sulawesi Utara dapat lestari.
Dari 134 lokasi peneluran di seluruh Sulawesi, 54 lokasi sudah tidak memiliki burung lagi, sedangkan 76 lokasi terancam punah termasuk didalamnya lokasi peneluran Tambun. Tambun adalah sebuah daerah yang terletak di kawasan lembah Dumoga. Bagi warga sekitar kawasan Dumoga, konon nama Tambun lebih dikenal kaitannya dengan Tambang. Jika berbicara permasalahan Tambang khususnya memperebutkan emas yang sampai menimbulkan perkelahian antar kelompok, maka orang-orang Tambun dikenal dengan “keberaniannya” dalam perkara adu otot tersebut. Nama Tambun sampai sekarang masih cukup ditakuti. Di Tambun inilah terdapat lokasi peneluran Maleo, tepatnya dekat desa Mokintop. Lokasi ini masuk dalam kawasan TN. Bogani Nani Wartabone. Menuju lokasi ini dari Manado mesti melalui Kotamobagu terlebih dahulu. Dapat ditempuh dengan beberapa pilihan, diantaranya naik mobil Kijang, sedikit lebih nyaman, dengan tarif tentunya lebih mahal yaitu Rp. 20.000,- atau bisa juga dengan angkutan yang lebih merakyat yaitu bus Damri dengan tarif Rp. 10.000,- Dari Kotamobagu perjalanan dilanjutkan dengan angkutan umum ke Imandi dengan tarif Rp.5000,- dan selanjutnya dari Imandi naik ompreng/ojek sampai di lokasi dengan tarif Rp. 5000,-. Perjalanan ini memakan waktu sekitar 5 jam. Lokasi peneluran tepat berada di pinggir jalan, begitu mudah untuk dijangkau, dan langsung terlihat setelah kita tiba di lokasi amat terbuka untuk umum, siapa saja dapat bebas keluar masuk lokasi ini. Hal ini disebabkan tidak adanya petugas yang berjaga, walaupun sudah dibuatkan pos penjagaan beserta rumah tinggal di lokasi tersebut. Disamping itu pagar pembatas lokasi dibuat seadanya bahkan dibeberapa tempat sudah rusak sehingga manusia maupun hewan bebas keluar masuk. Di dalam lokasi ada sebuah pos pengamatan yang cukup baik dan layak untuk pengamatan, dari pos kita dapat cukup bebas mengamati tingkah laku Maleo di sepenjuru lokasi peneluran dengan aman dan tersembunyi . Selain itu terdapat 3 buah lokasi peneluran buatan berupa bak penampungan berukuran 2 x 4 m yang biasa digunakan untuk penelitian telur Maleo. Kalau kita berjalan-jalan di dalam lokasi peneluran amat jelas terlihat berbagai macam bentuk lubang tempat Maleo bertelur. Pada lokasi ini diperkirakan sekitar 60 pasang Maleo bertelur.
Seperti yang telah diketahui oleh penelitian-penelitian sebelumnya, burung Maleo bertelur sekitar 10-12 butir pertahun selama 30 tahun, hal ini berarti sepasang burung Maleo dapat menghasilkan sekitar 300an butir telur sepanjang hidupnya. Di lokasi ini diperkirakan rata-rata 2-6 pasang Maleo bertelur perharinya. Umumnya mereka tiba di lokasi pada pagi hari , biasanya tiba dari dalam hutan dan hinggap pada pohon-pohon yang berada di sekitar lokasi, setelah beberapa waktu mereka turun ke lantai tanah untuk bertelur. Tidak menutup kemungkinan pula mereka datang siang hari atau bahkan sore hari, itu biasa ditemukan. Mereka bertelur dengan cara sebelumnya menggali lubang yang dirasakan cocok temperaturnya, setelah bertelur didalam lubang tersebut maka lubang tersebut kembali ditimbun oleh mereka, bahkan kadang-kadang mereka membuat lubang-lubang tipuan untuk mengelabuhi musuh-musuhnya yang berniat untuk mencuri telurnya. Amat pintar.
Seperti kebanyakan orang-orang di tempat lainnya, orang-orang Tambun pun berpikir bahwa masih banyak Maleo terdapat di daerah ini. Padahal riset yang dilakukan WCS dan Taman Nasional menemukan bahwa populasi Maleo di Tambun menurun tajam antara 47 – 65%. Masalah-masalah utama pada tahun-tahun belakangan ini adalah, disamping ancaman alamiah seperti Soa-soa dan kebakaran hutan, penduduk lokal menembaki burung untuk dimakan saat mereka tidak menemukan ayam atau jenis lainnya. Penembakan ini juga kadang dilakukan hanya untuk sekedar menyalurkan hobi atau sekedar iseng belaka karena ngga ada kerjaan. Dapat kita bayangkan kerusakan yang disebabkan, karena menembak 1 ekor Maleo jantan atau betina berarti memisahkan sepasang burung yang berarti juga kehilangan 300an butir telur atau 300an calon Maleo.
Masalah lain adalah pengambilan telur Maleo secara berlebihan, di lokasi ini hampir setiap hari ditemukan telur-telur yang hilang dari lubang penyimpanannya, terlihat jelas bekas galian manusia yang mengambil telur tersebut, kalau menurut orang-orang yang ahli mengenali kondisi lubang telur, akan terlihat mana saja lubang-lubang yang ada telur Maleonya, serta mana saja yang sudah Soa-soa atau manusia ambil, semua dapat diketahui dari bekas-bekasnya. Pengambilan atau pemanenan telur ini memang sudah berlangsung sejak lama dan dalam jumlah yang luar biasa. Menurut cerita orang-orang tua, pada waktu lalu setiap hari dapat dipanen sampai 100an telur perharinya, selain dikonsumsi sendiri telur-telur tersebut dibagi-bagikan kepada tokoh-tokoh di kampung seperti Kades, Pak Camat dan Kapolresta, semuanya kebagian. Untuk kasus ini bisa kita bandingkan dengan kondisi yang ada di Tangkoko, di daerah ini dulunya terdapat banyak Maleo yang hidup dan bertelur di pantai Batu Putih, namun penduduk memanen dalam jumlah yang terlalu banyak , sehingga dalam jangka waktu 13 tahun sejak orang memanen telur Maleo disana, sekarang tidak ada lagi telur yang dapat diambil. Saat ini dalam waktu satu tahun , orang mungkin hanya dapat melihat satu ekor burung Maleo di dalam hutan cagar alam Tangkoko. Menyedihkan.
Ancaman lain adalah pembukaan lahan perkebunan yang tepat berada di disamping lokasi peneluran dan hanya dibatasi oleh pagar pembatas lokasi peneluran, di perkebunan yang baru dibuka ini hampir setiap hari terjadi berbagai aktivitas manusia dari mulai pembersihan kebun, pembakaran sisa-sisa sampah kebun, pemotongan pohon atau kayu dan entah apalagi selanjutnya, yang pasti kebun ini baru dibuka, belum digunakan untuk berkebun. Situasi ini pasti amat mengganggu ketenangan Maleo bertelur.
Masalah menyangkut ketenangan Maleo bertelur juga ada yang lain. Lokasi ini amat mudah untuk dijangkau, serta tidak ada petugas yang menjaga, selain itu pagar pembatas lokasi sudah tidak layak, mengakibatkan siapa saja bisa seenaknya keluar masuk kawasan Dari mulai anjing sampai manusia bebas pasiar di kawasan. Kepentingannya macam-macam, ada yang mencari kayu bakar, bambu atau buluh, daun woka, saguer atau nira untuk minuman atau gula merah, atau buat janur. Semua aktivitas tersebut secara langsung amat mengganggu ketenangan Maleo bertelur. Jangankan bertelur, begitu Maleo melihat Manusia, maka dapat dipastikan Maleo tersebut langsung kabur masuk ke dalam hutan.
Selain masalah-masalah di atas maka ancaman lain yang mengganggu Maleo serta habitatnya yang umum ditemui di kawasan ini adalah pengambilan rotan, penebangan kayu serta pertambangan, semua ini menjadi ancaman keberadaan Maleo serta hidupan liar lainnya. Tambun sebelumnya dikenal sebagai tempat istimewa karena lokasi terbaik untuk peneluran Maleo, namun berbagai penelitian menunjukan, saat ini Tambun hanyalah tempat biasa karena cuma ada beberapa Maleo yang tersisa.…kasian deh lo…ada apa dengan Maleo di Tambun?
Mei 2002, Manado
